Kamis, 08 Desember 2011

WANITA DI ARUS BUDAYA MASSA


Menatap Harapan, 
150 x150 cm, Oil and Digital Print, 2010
oleh: Adam Wahida
*] Memaknai Perubahan Budaya
Perubahan kebudayaan selalu menawarkan sesuatu yang baru sebagai sebuah bentuk pemaknaan ulang hingga terjadinya dekonstruksi alur pemahaman pikiran yang banyak tervisualkan dalam idiom-idiom yang menjadi tanda sebuah kebudayaan. Gaya hidup manusia merupakan salah satu ruang yang memberikan kesempatan untuk berbagai efek simulasi dari pemahaman baru tentang kebudayaan. Fenomena untuk membenturkan kosakata (idiom) baru dengan idiom tata nilai budaya yang sebelumnya, untuk mengetahui apa yang bisa disinkronkan atau ditinggalkan, diganti dengan kosakata kekinian. Hal ini melahirkan banyak efek yang tidak hanya bersifat individual namun telah merambah ke lingkungan sosial yang lebih luas.
Dimulai dengan kegagapan terhadap perubahan, simulasi-simulasi ceroboh yang dilakukan tanpa kesadaran dan pemaknaan, kedangkalan akan pemahaman sebuah nilai, menjadikan posisi tawar identitas manusia menjadi labil dan cenderung stagnan. Ambiguitas menjadi hal yang sering kita lihat sehari-hari, ketika idealisme kemanusiaan terabaikan oleh simulasi-simulasi yang dilakukan. Apa yang harus diikuti, kosakata apa yang lebih baik untuk dikenakan, idiom mana yang sesuai dengan kepribadian, menjadi hal yang terus harus dicari dalam lautan simulasi.
Pergeseran kebudayaan selalu melahirkan beragam penafsiran dan pemaknaan akan nilai-nilai lama dan kosakata baru kebudayaan yang hadir dalam lingkup masyarakat kita. Shock of the new, adalah fenomena yang muncul dalam setiap tingkah masyarakat kita sekarang. Kegagapan melihat perubahan yang terjadi, munculnya tren yang memaksa untuk terus di update dan diikuti, yang secara tidak sadar akhirnya kita pun terlenakan realitas yang ada di depan mata, hingga pada suatu waktu akan muncul sebuah kesadaran tentang kondisi yang tidak akan ada habisnya untuk dituruti dan diikuti. Titik jenuh yang mulai muncul, hingga hadirnya kesadaran pentingnya pemaknaan terhadap sebuah nilai, akan membawa kita menyadari kembali betapa berharganya tata nilai dari kebudayaan lalu yang telah kita tinggalkan.
Berpijak dari pandangan di atas, saya mencoba untuk memahami kembali bagaimana proses simulasi itu memberikan efek-efek ambiguitas yang terlihat dalam keseharian kita. Tak jarang kita lihat sehari-hari, manusia dengan kepandaiannya, membenturkan tatanan nilai dari sebuah kebudayaan dengan idiom visual kebaruan. Sebagai contoh munculnya idiom visual sepatu highels, cat rambut, rebonding, tatto alis, kawat gigi, hingga senam seks sebagai tanda kekinian (baca:fesyen masa kini) yang dihadapkan pada kekentalan kearifan budaya lokal, telah menciptakan ambiguitas pada tatanan nilai yang ada.

**] Menatap Pergeseran Peran
Ketika laki-laki mempunyai kekuatan yang lebih secara fisik, maka wanita secara biologis memiliki kelebihan sebagai ibu. Wanita bisa hamil, melahirkan, dan menyusui. Kelembutan, kasih sayang dan pengorbanan dirinya yang paling sesuai yaitu dalam mengasuh anak-anak dan mengurus rumah tangga. Segala sesuatu yang dilakukannya untuk rumah tangga dan anak-anak sangatlah berharga. Seorang wanita telah memainkan peran dan tugas yang mulia sebagai ibu dari sebuah generasi, ini merupakan peran yang tidak seorang pun pria bisa mendapatkan kehormatan seperti itu.
Adanya perbedaan biologis terbesar antara pria dan wanita menandakan bahwa kedua jenis kelamin ini tidak saling menduplikasi satu sama lain, masing-masing bukan berjuang untuk memenuhi peran yang sama dan bertingkah laku dengan cara yang sama. Sebaliknya mereka saling melengkapi, melaksanakan kelebihannya masing-masing dan menutupi kelemahan pasangannya.
Sejalan dengan perubahan budaya, fenomena emansipasi wanita melahirkan tanggapan yang banyak ragam. Sejak diproklamirkannya, emansipasi tersebut telah mampu membuka ruang derajat sosial wanita untuk sejajar dengan pria. Salah satu budaya masyarakat kita, yang dulu memposisikan ”wanita sebagai teman belakang” telah bergeser menjadi partner yang sejajar dengan pria, bahkan tidak sedikit yang mampu menjadi leader-nya. Seiring dengan perkembangan jaman, emansipasi tersebut menjadi sebuah tren, berbagai kajian dan studi tentang wanita dan gender menjadi perhatian besar. Dalam kondisi seperti ini wanita merasa lebih mempunyai kepercayaan diri yang tinggi dalam segala hal.
Selain sifat naluriahnya yang pandai bersolek (feminin), wanita juga ingin menampakkan kecenderungannya untuk tampil tangkas dan cerdas. Berbagai bentuk asesoris yang mendukung agar selalu tampil prima dalam karir berusaha digapainya. Kenyataan seperti ini tidak bisa dihindari, hingga dampak yang terjadi adalah maraknya tren fesyen global dan gaya hidup baru yang secara perlahan mulai meninggalkan kearifan lokal.
Masih terngiang dalam ingatan, ketika boneka Barbie pertama kali masuk ke tanah ini pada dekade tahun delapan puluhan, beberapa pihak menyebut hal ini sebagai simbol awal terseretnya kita ke dalam arena masyarakat konsumerisme dunia. Sebuah boneka, yang tak lebih dari sekedar mainan anak-anak, sebuah kebutuhan kesekian (tersier), tiba-tiba menjadi rebutan dan bahan perbincangan yang ramai, tidak hanya bagi anak-anak namun juga orang dewasa. Hasrat membeli dan mengkonsumsi boneka Barbie kemudian dapat dibaca sebagai suatu gejala kebiasaan baru, membeli sesuatu yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan. Nilai-guna digantikan nilai-tanda. Lebih dari itu, boneka Barbie sebenarnya juga menggemakan sebuah fenomena baru dalam masyarakat konsumerisme dan simulasi, yakni fenomena hiperrealitas; sebuah gejala dengan bertebarannya realitas-realitas buatan yang nampak lebih nyata dibanding realitas sebenarnya. Permainan tanda-tanda visual tersebut merupakan representasi sekaligus persepsi atas kecenderungan wanita kita yang mencoba menerima masuknya budaya fesyen barat dan mengamininya secara sepintas, sedangkan disatu sisi budaya fesyen lokal masih cukup kuat melingkunginya.
Kenyataan hadirnya fenomena hiperrealitas dalam segala ruang, mulai dari gosip, infotainment, sinetron hingga situs web telah menjadi gaya hidup dan tren yang sulit dihindari. Hanyalah kesadaran yang kuat untuk memilah dan memilih sesuai kebutuhan, menjadi saringan diri. Bagi wanita, tampil feminin memang sudah selayaknya, karena itu kodrati, tetapi jika feminin dicampurkan dengan ke-sexy-an yang fulgar maka secara langsung justru telah merendahkan dirinya sendiri sebagai makhluk yang mulia.
Dalam hal ini, marilah kita mencoba untuk memaknai kembali penampilan visual wanita kita ditengah kehidupan yang masih memiliki citra lokalitas, telah berbenturan dengan tatanan fashionable dan gaya hidup global. Bagaimana masyarakat wanita kita sekarang memandang apa-apa yang telah mereka tinggalkan ?. Terdapat suasana ironi yang ingin ditampakkan, sebagai sebuah pembacaan akan mulai munculnya kesadaran masyarakat kita berikut kejenuhan terhadap nilai-nilai kebaruan yang ada. Marilah kita maknai setiap jengkal perubahan yang terjadi !. Bersama publik, kita amati dan pahami proses dialogis antara dua sistem nilai kebudayaan, berikut efek yang terjadi sebagai bagian simulasi kebudayaan yang diberlakukan. Fenomena kegagapan yang menjangkiti setiap manusia, telah menciptakan ambiguitas pada tatanan sosial masyarakat.
Berkembangnya fenomena budaya massa yang telah melintasi batas kultural, bukan saja berpijak pada sudut pandang sifat konsumtif manusia, namun lebih dari itu permasalahan budaya massa tidak dapat dilepaskan dari permasalahan identitas. Ketika manusia dihadapkan, bahkan terlenakan pada beragamnya pilihan produk kebudayaan maka secara sadar maupun tidak, proses pencarian terhadap identitas yang membangun norma dan tatanan nilai kultural menjadi satu hal yang penting untuk dikaji.

2 komentar:

  1. WELEH WELEH TAPI JANGAN PENGEMAR TANTE TENTE LO BOSSSSS

    BalasHapus
  2. p.peb....mboten p...cukup njenengan wae...hihi

    BalasHapus