Kamis, 08 Desember 2011

WONDER"WARM"MAN


WONDER”WARM”MAN
RABER, AKRILIK, SPRAY PAINT ON CANVAS
oleh. Susiawan haryanto*(HARI)

Dalam era industri dan jejalan moderenitas kekinian wanita menjelma menjadi sebuah produk dalam etalase-etalase kapitalis,ia (baca:wanita) dikemas dengan stigma bahwa wanita sebagai rangsangan, daya tarik, hingga menjadi pemuas konsumen sebuah produk. Dunia periklanan apapun produknya hampir nyaris semua produknya menggunakan kemolekan, keseksian dan sensualitas wanita sebagai ujung tombak penarik (perangsang) sebuah hasil produksi. Ketika sensualitas wanita sudah menjadi bagian dan tujuan dari ruang benak konsumen, maka secara sadar maupun tidak hal tersebut menempatkan/memposisikan wanita layaknya sapi perahan untuk pemuas hasrat pasar (baca:kapitalis)
Budaya (popular) tersebut lahir dari rahim modernisme dan dibesarkan oleh industri sebagai instrumen utama kapitalisme sehingga ia (perempuan) punya andil besar membentuk dan memproduksi dinamika kehidupan masyarakat dalam mendefiniskan dan memproyeksikan dirinya. Posisi wanita (sensualitas) begitu sangat mempesona dan merangsang keinginan kita (baca:sebagian besar dari kita) karena dalam benak sebagian dari kita memahami wanita hanya sebatas sexsualitas bukan pada sisi yang lebih dalam dari diri wanita. Pola pikir tersebut begitu sangat membabi buta dan liar bermain dalam benak konsumen (kita) hingga pada tataran meng-konsumsi produk industri malah keluar dari esensi produk itu sendiri.

Wonderwomen: Selalu Berdendang Ria Dalam Etalase Mesin Industri
Perubahan akan tututan moderisme menyebabkan sebagian dari kita menjadi manusia yang begitu takluk dan patuh pada hukum mesin-mesin kapitalis. kita menjelma menjadi koloni robot-robot organik dalam gelombang besar dan siklus pasar industri (baca:kapitalis) dengan segala buaian, impian atau bahkan resiko. Kemunculan wanita sebagai panglima besar sirkus pasar kapitalis merupakan sebagaian kecil “produk” gerakan feminisme. Dalam pandangan idelistik menyatakan bahwa feminisme digerakan oleh suprastruktur yaitu kesadaran tentang adanya ketimpangan, ketidakadilan gender. Tetapi justru dalam pandangan materialisme budaya mengatakan bahwa gerakan feminisme tersebut lahir dari infrastruktur ,yaitu oleh produksi dan reproduksi secara masif. Dalam hal ini (menurut: materialis budaya) perkembangan gerakan feminisme begitu sangat didukung adanya media dan teknologi informasi sehingga gagsan akan feminisme nyaris tidak ada sekat budaya, terotorial dan waktu.
Perempuan dalam dunia industri selalu menempatkan perempuan sebagai objek (perangsang nilai jual), ia (perempuan) dikemas dan dipertontonkan dengan yang ditonjolkan. Demikian pula fiksi romantis yang mereproduki budaya patriarki, perempuan disuapi dengan cinta sejati. Opera sabun yang membahayakan kesadaran politik perempuan. Praktik fashion dan kecantikan yang telah mendikte perempuan untuk diarahkan. Pada kutub yang lain, budaya anak muda serta musik pop, terus menerus memproduksi ilusi-ilusi tentang kebahagiaan, kesedihan, dan aneka macam bentuk budaya yang menghilangkan identitas budaya dan kreatifitas. Kepraktisan, pragmatisme, dan keinstanan dalam pola kehidupan menjadi salah satu ciri khasnya

Dikontruksi Feminisme : Wacana Pembalikan Peran
Melihat persoalan akan pergerakan pemahaman dan aktualisasi dari feminisme akhirnya persoalan dari feminisme bukan sekedar berhenti pada tataran kesetaraan gender. Kesetaraan gender haruslah disikapi dengan kearifan dan tidak serta merta meluluhlantahkan kodrat “dua kelamin”. Dalam konteks social-budaya kekinian yang terjadi bukan siapa mengkorbankan siapa dan siapa korban siapa karena pada banyak kasus yang terjadi adalah kepentingan pria selalu dibawah kendali seorang perempuan. Istilah parodi tentang “Istiqomah” ikatan swami takut istri kalo dirumah begitu banyak kita temui untuk mengistilahkan betapa kendali istri begitu kuat dan penggaruhnya terhadap benturan kepentigan swami. Kekonyolan dalam suatu hubungan tersebut malah menjadi produk (dipertontonkan) pada khalayak umum (penikmat media) bahwa kendali perempuan (istri) begitu sangat nyata dalam sebagian besar masyarakat?.
Gerakan feminisme yang awalnya memperjuangkan ‘kesetaraan “ sekarang cenderung mengarah pada isu “perbedaan” dengan tujuan-tujuan perubahan baru yang berkesinambungan dengan “teori-teori” baru pergerakan sosial. Dalam tataran idealistik sebenarnya setiap diri kita (laki-laki, perempuan) mempunyai peran menurut kodrat dan porsi diri, tinggal bagaiman kita mensikapi setiap ruang perbedaan yang ada. Semoga perbedaan kelamin diantara kita bukan selalu menjadi perdebatan untuk disetarakan dan semoga perbedaan itu menjadi kenikmatan setiap diri dari kita dalam menjalani perbedaan itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar